Pages

Ads 468x60px

Minggu, 21 Desember 2014

BAGAIMANA JIKA IBUMU BUKAN IBU TERBAIK DI DUNIA?



BAGAIMANA JIKA IBUMU BUKAN IBU TERBAIK DI DUNIA? 

Bagaimana jika ibumu bukan ibu yang sempurna? 

Tak seperti dalam baris-baris puisi. Tak seindah gambaran mulia tentang perempuan-perempuan berhati surga. Tak sama dengan yang orang-orang ceritakan tentang begitu lembut dan penuh kasih sayangnya bunda-bunda mereka.

"Apa pentingnya peringatan hari ibu jika tak semua anak ingin mengingat masa lalu ibunya?" Katamu.

***

Bagaimana jika ibumu bukan ibu terbaik di dunia?

Barangkali, dia memarahimu dengan kata-kata yang menyakiti hatimu. Dia juga meremehkan dan tak memercayaimu. Sialnya, dia baik sekali pada orang lain—mungkin kakak atau adikmu, atau siapa saja yang selain dirimu. Betapa menyebalkan mendengarkan pujian berlompatan dari lidah ibumu, semua yang bukan dan tidak pernah tetang dirimu.

Barangkali, dia bukan ibu yang lembut, tak pernah seperti dalam puisi. Sejak kecil kau terbiasa dipukul olehnya, dibesarkan dengan kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya. Dia sepertinya tak pernah benar-benar menyayangimu. Sialnya, kau tak bisa memilih untuk dilahirkan ke dunia dari rahim milik siapa.

Bagaimana jika ibumu bukan ibu terbaik di dunia?

Di sekolah, kau tak ingin membuatnya bangga. Untuk apa? Dia juga hanya mementingkan dirinya sendiri dan tak pernah benar-benar memerhatikanmu. Tetangga-tetangga membicarakan keburukannya… Seesuatu yang menghancurkanmu tetapi darinya kau mendapatkan puing-puing untuk melemparkan kebencianmu pada apa saja yang bisa membuat ibumu kecewa.

Dia menghancurkan hidupnya sendiri, katamu. Dia menderita karena perbuatan dan keputusan-keputusannya sendiri. Tetapi mengapa tiba-tiba kau harus menjadi bagian tak terpisahkan dari jalan hidupnya yang berantakan, keputusan-keputusan masa lalunya yang teramat buruk?

Bagaimana jika ibumu bukan ibu terbaik di dunia?

Sialnya, bagaimanapun dia adalah ibumu. Dia tak mengatakan apa-apa tentang seseorang yang akan mendampingimu untuk selama-lamanya… Tetapi sebelum menikah, kau tetap harus mendapatkan restu darinya. Kau mungkin tidak ingin pasanganmu dekat dengannya, tetapi kau tak mungkin tidak membuat mereka saling kenal, kan? Maka kau melakukannya secara terpaksa, semacam usaha untuk menghindari seburuk-buruknya karma.

Demikianlah, setelah kau berkeluarga, dia terlalu banyak mencampuri urusan keluargamu. Dia meminta uangmu karena merasa telah berinvestasi banyak pada segala hal yang kini membentuk kesuksesanmu. Tetapi dia mulai membicarakan istrimu yang ternyata tak begitu disukainya. Dia mulai menuntut terlalu banyak agar kau membalas jasa-jasanya…

Bagaimana jika ibumu bukan ibu terbaik di dunia?

Di masa tuanya, kau masih mendengar kemarahan-kemarahannya. Kau muak pada tubuhnya yang ringkih, hidupnya yang sakit-sakitan, tetapi pada saat bersamaan kau tak mungkin meninggalkannya—mencampakkannya sendirian.

Barangkali, sabda tentang surga di bawah telapak kakinya selalu menjadi sesuatu yang tak pernah bisa kau mengerti. Sementara tak ada perempuan lain lagi yang pernah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan dan memberimu kesempatan hidup di dunia. Sementara kau tahu tak ada yang lebih kau butuhkan untuk hidup bahagia selain restu dan perkenannya.

***

Tentang ibu, barangkali tak semuanya melulu tentang masa lalu. Betapapun hebat pengorbanannya di saat-saat ia melahirkan kita ke dunia, mustahil bagi kita mengingat semuanya. Sementara bagi sebagian kita, masa kecil… juga apapun tentang ibu di waktu lampau, tak pernah menyenangkan untuk dibingkai menjadi kenangan.

Maka tentang ‘restu ibu’, barangkali juga soal masa depan. Sebagian anak ditakdirkan untuk menjadi lebih dewasa dan bijaksana daripada orangtua mereka. Sebagian dari kita ditakdirkan menjadi ibu sesungguhnya bagi ibu kita sendiri… yang mesti merawatnya, bersabar kepadanya, memberikan kasih sayang, memaafkannya.

Untuk mereka yang mengalami semua ini… Barangkali kau dan ibumu sudah cukup menjalani semuanya. Barangkali kalian sudah terlalu jauh. Barangkali ini saatnya untuk membuka lembaran hidup yang baru.

Maka katakanlah, “Kita adalah kita, Ma. Yang barangkali ‘berbeda’ dengan anak dan ibu lainnya… Kita adalah nasib, jalan hidup, dan kesunyian masing-masing. Aku memaafkan semua kesalahan dan keputusan-keputusan burukmu. Aku memaafkan segala hal yang ada pada dirimu. Maka maafkanlah aku atas segala perlakukan dan kata-kata burukku. Maafkanlah aku untuk semua amarah yang pernah kuungkapkan atau yang kusimpan dalam diam.

Terima kasih karena telah menjadi ibuku, Ma. Terima kasih karena bagaimanapun tak ada yang bisa menggantikan tempatmu untuk bisa melahirkan dan membesarkanku. Tuhan selalu memberikan seorang ibu yang kuat untuk anak-anak yang keras kepala, Ma. Terima kasih telah mengorbankan masa lalumu untuk masa depanku. Terima kasih karena telah menjadi dirimu yang selalu ‘cukup’ untuk diriku.

Aku ingin memulai hidup kita yang baru, Ma. Sesuatu yang jika kelak anak-anakku menanyakannya, akan kuceritakan semuanya dengan perasaan lega dan bangga. Maka akan kuperkenalkan engkau sebagai ibuku, nenek tercinta bagi mereka. Aku ingin hidup kita yang baru, Ma. Sesuatu yang jika suatu saat aku harus pergi untuk selama-lamanya, dan tak mungkin pulang lagi ke rumahmu, ke pelukanmu, aku tak akan sedikitpun merasa takut atau malu karena aku telah menggenggam restumu.”

***

Barangkali ibu kita memang bukan ibu terbaik di dunia, sebab kita juga bukan anak-anak terbaik di dunia!

Selamat tinggal masa lalu. Selamat tinggal dunia yang buruk. Selamat terlahir kembali.

Selamat hari ibu!

1 komentar:

 

SHOFANESIA.COM
SHOFANESIA.COM